Amazon MP3 Clips

Senin, 23 Juli 2012

Basa Sunda Jaman Baheula


Budaya dan Bahasa Sunda Pasca Pajajaran
Sejak abad ke 16 sebagaimana yang diuraikan diatas, masyarakat Sunda praktris kehilangan pusat kebudayaan, baru bangkit sebentar, sebagaimana yang dilegitimasikan kepada Geusan Ulun, namun ibarat bunga Wijaya Kusumah, kuncup dan sebentar mekar lalu layu kembali. Kemudian masa pun berganti, tatar suda berada dibawah Mataram, Wajar jika Urang Sunda sangat terpengaruh kebudayaan Jawa.

Pengaruh ini tidak hanya pada tataran kesenian, tapi juga administrasi pemerintahan dan bahasanya. Bahasa tulisan resmi menggunakan bahasa Jawa sedangkan bahasa lisan menggunakan bahasa Sunda. Tidak pula dapat dipungkiri, pengaruh budaya terhadap basa sunda masih kental mewarnai sampai saat ini, seperti adanya tingkatan penggunaan bahasa.
Perubahan demikian ditegaskan pula oleh Widle, menurut Wilde (1829) bahasa yang dipakai ulama di Jawa Barat adalah bahasa lokal, bahkan banyak pula pemimpin lokal yang menggunakan aksara arab. Hal yang sama disampaikan oleh Edi S. Ekadjati , menurutnya (jaman itu) ditandai dengan lahirnya naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon yang dimulai pada abad ke-17.

Pengaruh Mataram terhadap budaya Sunda sangat nampak, misalnya dalam kesustraan Sunda yang berkembang sesuai estetika Jawa. Seperti bentuk sajak dalam wilayah penuturan bahasa Sunda disebut dangding, yang diadaptasi dari tembang-tembang macapat. Disisi lain, sekalipun pusat pemerintahan berpindah ke kabupaten-kabupaten, tetapi masyarakat diluar tradisi menak – priyayi Sunda, masih mengembangkan tradisi yang tidak ada didalam komunitas lain di Nusantara, seperti reportoar pantun – sajak bersuku kata delapan, yang telah ada sejak dulu sampai sekarang.Pantun biasa didendangkan dan dituturkan oleh para petutur pantun,. Selain Pantuan juga ada tradisi tulis pada daun lontar yang sudah lama berkembang di daerah ini.

Sejak kedatangannya pada abad ke-17 ke Hindia Belanda, orang Belanda sangat sedikit yang mengetahui jika Sunda memiliki Budaya sendiri. Paradigma semacam ini berlanjut hingga pada abad ke 19. Sebelumnya pada tahun 1811-1816, Raffles, Gubernur Inggris di Jawa mendorong untuk melakukan penelitian tentang sejarah dan kebudayaan lokal. Dalam buku History of Java, Raffles masih dibingungkan, apakah Sunda itu dialek atau bahasa yang mandiri, bahkan menyatakan bahasa Sunda sebagai varian dari bahasa Jawa. Bahkan ada juga yang menyebut bahasa Sunda sebagai bahasa Jawa Gunung dibagian barat.






Sunda Etnitas Mandiri
Pada masa selanjutnya para cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah, swasta dan para penginjil menemukan sunda sebagai etnis sendiri. Pengetahuan etnografi ini sangat dibutuhkan, paling tidak untuk mempermudah komunikasi antara Belanda dengan Pribumi. Peristiwa penemuan ini ditunjang pula oleh upaya pemerintah kolonial bekerjasama dengan para Sarjana Belanda, membagi Nusantara kedalam wilayah Budaya yang berbeda-beda, antara lain Jawa, Sunda, Madura – masing-masing dengan bahasa mereka sendiri. Belanda tentunya memiliki tujuan, karena masing-masing wilayah memiliki potensi alam yang berbeda. Seperti daerah Priangan sangat penting dari segi ekonomi, karena sebagai penghasil kopi. Belanda mendorong para elite lokal untuk menjalankan roda administrasinya sendiri, serta mendorong untuk belajar pendidikan formal. Dari sini para Bumiputra menyadari, bahwa memang ada perbedaan bahasa dan budaya diantara mereka.

Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di Sukabumi melakukan studi etnografi tentang daerah Priangan. Ia berpendapat bahwa bahasa sunda merupakan bahasa tersendiri. Cuplikan pendapatnya, sebagai berikut :

Bahasa yang dituturkan diwilayah ini adalah bahasa sunda. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada banyak kata-kata yang pelan-pelan masuk atau diambil dari kedua bahasa yang disebut belakangan. Aksara yang dipakai para ulama adalah Arab ; banyak pemimpin lokal juga menegenal bahasa itu ; jika tidak memakai aksara itu, penduduk pada umumnya memakai aksara Jawa.

Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia mengumpulkan banyak kata-kata Sunda mengenai pertanian, adat istiadat, dan Islam. Hasil penelitiannya semakin meneguhkan bahwa Sunda adalah etnis tersendiri.

Bahasa memang lajim disebut pertanda bangsa – Basa Ciciren Bangsa (een volk). Pendapat ini dikemukakan pula pada tahun 1920-an oleh Memed Sastrahadiprawira, seorang sarjana sunda. Ia mengemukakan :

“Basa teh anoe djadi loeloegoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna roepa-roepa basa tea pada leungit, bedana bakat-bakatna kabangsaan oge moesna. Lamoen ras kabangsaanana sowoeng, basana eta bangsa tea oge lila-lila leungit”

Dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Pandangan ini menyatakan bahwa : bahasa merupakan representasi, cerminan suatu kebudayaan ; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya..

Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedanhkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde. Kemudian Roorda membuat pernyataan :

Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya sangat sedikit dan tidak sempurna ; bahasa itu dituturkan di wilayah barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu ; bahasa itu sangat bebeda dengan yang pantas disebut bahasa jawa dan juga melayu, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang asing di kepulauan Hindia Timur.

Berdasarkan khasanah naskah Sunda yang berhasil di data Edi S. Ekadjati dkk (1988), dikemukakan, Pada abad ke 19 merupakan masa peralihan kehidupan naskah Sunda, yaitu dari masa transisi antara lain ditandai dengan lahirnya naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon yang dimuali pada abad ke-17 kemasa baru yang ditandai lahirnya naskah-naskah Sunda dengan menggunakan aksara cacarakan, Pegon, dan Latin yang dimulai pada pertengahan abad ke-19. Pada Masa itu telah ada pula penulis dan pengarang Sunda terkenal, seperti Raden Haji Muhamad Saleh dan Raden Haji Muhamad Musa. Tentunya Muhamad Musa terkenal dengan Karyanya “Panji Wulung”. Bagaimana dengan sekarang ?.

tina Blogs: Kabuyutan  (Rakean-Balangantrang Foundation ]..



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar