Amazon MP3 Clips

Minggu, 21 September 2014

KEARIFAN LOKAL BUDAYA MENGUATKAN NKRI
Anugrah yang paling besar bagi bangsa Indonesia adalah keanekaragaman suku dan budaya yang ada dalam satu ikatan tak terpisahkan yaitu NKRI dengan falsafahnya Pancasila. Data Geografis menunjukan bahwa wilayah kita terdiri dari 17.500 pulau, kurang lebih 525 suku bangsa dan 250 bahasa daerah. Fakta ini merupakan bukti bahwa negara kita negara yang paling beranekaragam dengan potensi keindahan alam yang begitu elok.
Secara umum pandangan tersebut sudah banyak diketahui orang. Bangsa Indonesia memiliki Budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Selain banyak kesaamaan tapi tidak sedikit perbedaan. Sebagai konsekuensi dari keadaan ini, diperlukan upaya yang kuat untuk mempertahankan negara kesatuan. Di era global seperti sekarang, penetrasi pengaruh budaya luar begitu kuat meraksuk jiwa generasi muda. Bukan hanya budaya yang datangnya dari barat melainkan dari timur yang sudah kebarat-baratan Korea misalnya, juga sudah mulai menggoyahkan kesadaran anak muda untuk membangun jiwa kebangsaan. Lebih parahnya mereka tercerabut dari akar budayanya. Bukan mustahil generasi mendatang ibarat “Batang tanpa akar.” Mereka menjadi generasi yang labil yang tidak punya jati diri bangsa. Kalau sudah seperti ini tawuran, geng motor, trans gender pasti akan membudaya. Nauzubillah.
Permasalahnnya sekarang adalah wujud budaya nasional tidak akan terbentuk kalau tidak ada budaya daerah. Ada anggapan negatif terhadap budaya-budaya daerah, yang mana menganggap bahwa budaya daerah dengan nasional harus berbeda. Armin Pane dalam Sutan Takdir Alisjahbana menganggap gamelan bukan musik Indonesia. Yang dianggap sebagai musik Indonesia adalah musik Keroncong. Begitu pula teater nasional yaitu drama-drama yang diperankan di negara-negarai Eropa yang berdasar pada teks tertulis. Sedangkan wayang, longser, ketoprak, wayang wong dan sejenisnya tidak dianggap teater Indonesia.
Ki Hajar Dewantara mempunyai pandangan berbeda dengan Armin Pane. Beliau mempunyai pandangan bahwa kebudayaan nasional adalah merupakan puncak-puncak budaya daerah. Artinya segala bentuk budaya adiluhung dari berbagai daerah yang sudah dianggap universal dan mengakar di seluruh nusantara, itulah yang disebut budaya nasional. Alhasil dari pendapat beliau ini maka terwujudlah UUD 1945 Pasal 32.
Kesenian atau budaya masing-masing suku bangsa akan menimbulkan rasa bangga seluruh bangsa, kalau menunjukan perkembangan yang mengembirakan. Bagamana dengan seni budaya Sunda? Menurut Ajip Rosidi pemerhati budaya sekaligus kritikus sastra “Bahwa seni budaya Sunda belum ada kemajuan yang menggembirakan.” Beliau berpendapat minat orang Sunda terhadap kesenian Sunda semakin lama semakin berkurang. Hal ini disebabkan orang Sunda tidak mendapatkan kesampatan untuk mengenal dan mengapresiasi budayanya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di sekolah misalnya, kegiatan seni seperti acara  adat perpisahan yang banyak menampilkan seni dan kreasi siswa mulai dibatasi dengan alasan efesiensi anggaran. Pragmatis memang tapi begitulah kenyataannya.
Walaupun banyak seniman yang menghasilkan karya yang adiluhung tapi karena minat masarakat terhadap seni daerah kecil sekali akhirnya, seni tidak berkembang. Hal tersebut tiada lain penyebabnya adalah kurangnya perhatian pemerintah pusat terhadap seni/budaya maupun bahasa daerah.  Di masarakat sendiri seni ataupun bahasa daerah hanya rame ketika kampanye politik saja. Setelah itu seperti tidak ada bekasnya. Hampir setiap caleg mengusung kearifan lokal. Bahkan mereka tak segan menggunakan bahasa daerah dalam poster-poster kampanyenya. Tetapi ketika mereka terpilih lupalah sudah. Parahnya mereka habis-habisan menentang keberadaan bahasa daerah dalam kurikulum. Mereka lupa ketika sebelum terpilih banyak poster-poster berbahasa daerah sehingga mengantarkan mereka pada cita-cita puncaknya. Sungguh terlalu.
Seni/budaya maupun bahasa daerah hanya mengandalkan pejabat daerah saja. Kalau kebetulan Pejabat daerah terhadap seni/budaya dan bahasa daerah punya minat, maka dapat berkembang. Setidaknya tidak “Hirup teu neut paeh teu hos” (Mati segan hidup pun tak mau). Tapi dalam kenyataan pejabat daerah yang mempunyai minat terhadap seni/budaya ataupun bahasa daerah sangat langka. Kearifan lokal Cirebon suci ing pamrih reme ing gawe dalam mengembangkan seni/budaya dan bahasa daerah tersebut bukan hanya untuk rakyat saja, melainkan harus dicontohkan oleh para pejabatnya.
Masih Kata Ajip Rosidi walaupun seni-seni tradisional/budaya dan bahasa daerah di tatar Sunda kurang menggembirakan dan punya masa depan yang suram, tapi banyak seniman Sunda baik dari Priangan, Pantura ataupun Banten yang tidak bisa disepelekan  dan berkiprah di kancah nasional. Dalam seni musik misalnya (Rhoma Irama, Bimbo, Harry Rusli, Charli dll), Pelawak (Ibing Kusmayatna,  Jojon, Miing, Sule dll), Penyanyi (Hetty Koes Endang, Dewi Yul, Ike Nurjanah, dll), aktor (Rahmat Hidayat, Selamet Raharjo, Eeng Saptahadi, Jame Aditya dll), Aktris (Tina Melinda, Nani Wijaya, Desi Ratnasari dll), Aktor/Aktris Teater (Yayat Hendayana, Nani Somanagara dll), Pelukis atau sastrawan/bahasawan nasional (Affandi, Hendra Gunawan, Ajip Rosidi, Akhdiat Kartamiharja dll).
Kearifan Lokal Menguatkan NKRI
Khususnya dalam bidang budaya masarakat Jawa Barat merupakan bagian dari negara kesatuan republik Indonesia mempunyai mempunyai banyak kearifan lokal yang berupa filosofi hidup contonya pertama, silihasah-silihasih-silihasuh. Filosofi ini bisa dijadikan modal yang mendasar untuk membangun suasana kehidupan yang harmonis dalam sistem sosial dan budaya prilaku masarakatnya.   Nilai-nilai kesundaan yang positif  serta bisa diterima secara universal tidak ada salahnya dijadikan pemersatu bangsa. Sunda sebagai etnik terbesar kedua setalah Jawa tentunya mempunyai andil besar dalam menguatkan keutuhan NKRI.
Menengok sejarah masa lalu munculnya orang Sunda dalam sejarah mulai dari abad ke 4 Masehi. Pandangan tersebut dikuatkan oleh saksi Para pendatang etnik Tionghoa Fa Hian yang pernah datang ke Tarumanegara. Hal tersebut didasarkan atas ditemukannya sisa-sisa peninggalan kerajaan Tarumanegara yang berupa candi.  Candi  tersebut yaitu candi Cibuaya dan candi Batujaya di Karawang. Dalam hal ini bisa jadi menjadi bukti bahwa munculnya orang Sunda lebih awal dibanding yang lain, termasuk Melayu. Sayangnya jangankan informasi sejarah untuk orang lain untuk orang Sunda Sendiri sampai saat ini gelap. Begitu menurut Ajib Rosidi dalam bukunya Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda.
Kelompok pendatang dari Melayu di kota pelabuhan pernah berkembang pesat di Jayakarta yang dahulunya dikuasai kerajaan Sunda. Kelompok Melayu ini membentuk suatu komunitas yang disebut orang Betawi.  Bahasa Melayu menjadi bahasa sehari-harinya. Komunitas ini dianggap penduduk asli. Wilayah ini seterusnya menjadi  ibu kota negara Indonesia yaitu Jakarta. Bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Kalau melihat sejarah orang Betawi merupakan perpaduan antara Melayu, Sunda dan Tionghoa. Hal ini bisa dilihat dari seni-seni yang masih hidup sampai sekarang. Semakin jelas bahwa ada latar belakang sejarah yang sama atau saling berkaitan hal ini akan lebih memudahkan untuk menguatkan NKRI.
Contoh kearifan lokal yang kedua, yaitu dalam membangun kebarsamaan dengan cara musawarah dan mufakat. Musawarah dan mufakat yang didasarkan itikad baik dalam peribahasa Sunda disebut “Herang caina beunang laukna.” Diumpamakan kalau diantara kita ada perbedaan prinsip atau perespsi  terhadap seuatu hal. Maka harus dimusawarahkan dengan cara-cara yang santun dan bijaksana dalam pribahasa Sunda harus “Landung kandungan laer aisan.”
Contoh kearifan lokal ketiga, yaitu falsafah yang merupakan sikap sabilulungan atau keharmonisan dalam keragaman budaya, keyakinan, golongan, etnik, status sosial dan lainnya, terutama dalam hal kebersamaan dalam menerima perbedaan keyakinan dan persepsi hal ini bisa mendukung terhadap nilai-nilai luhur idiologi negara yaitu pancasila dan UUD 1945.
Oleh sebab itu kearifan lokal perlu digali bukan hanya sekedar jadi media politik.  Perlu dibudayakan jangan hanya jadi alat Kampanye.   Nilai-nilai adiluhung budaya ada dalam kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan lokal seperti contoh-contoh diatas hanya sebagian kecil saja. Semoga dengan membangun nilai-nilai kearifan lokal yang adiluhung bisa membangun karakter bangsa Indonesia dan mempunyai jiwa patriotis kebangsaan. Sekaligus menguatkan keutuhan NKRI. Amiin
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar